Home Kesehatan Waspadai Heatstroke, Jamaah Haji Diminta Banyak Konsumsi Air

Waspadai Heatstroke, Jamaah Haji Diminta Banyak Konsumsi Air

REHAT – Perjalanan ibadah Calon Jamaah Haji (CJH) bakal menemui tantangan berat. Pasalnya, suhu di tanah suci saat ini cukup tinggi. Mencapai 46 derajat celcius. Bahkan, suhu tertinggi bisa tembus 50 derajat celcius. Kondisi suhu tersebut dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Penurunan kondisi daya tahan tubuh, dehidrasi hingga terkena heatstroke.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes RI, dr Eka Jusup Singka mengimbau jamaah haji dapat menghindari dehidrasi dengan memperbanyak minum air putih. Sebab, heatstroke terjadi karena kurangnya asupan air, cairan tubuh menguap dan keluar banyak keringat. Kondisi tersebut membuat kandungan air dalam darah kering. Akibatnya, darah tidak mengalir sampai kepala.
“Jadi darah tidak jalan. Tidak ada yang memompa sampai ke kepala,” kata Eka.
Eka menjelaskan serangan heatstroke bisa mengakibatkan seseorang meninggal dunia atau mengalami total organ failute seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan gagal otak. “Korban tidak bisa melakukan apapun,” ungkapnya.
Selain perbanyak minum air putih, Eka juga menyarankan jemaah haji untuk selalu menggunakan payung saat beraktifitas di luar ruangan. “Yang harus dikendalikan dari suhu setinggi itu adalah kitanya,” ucapnya.
Kasus heatstroke pada jemaah haji Indonesia pertama muncul pada 2015, namun hingga saat ini tidak ada kasus kematian. Pemerintah dalam hal ini Kemenkes terus berupaya memaksimalkan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi kepada jemaah haji.
Untuk mencegah heatstroke, termasuk mencegah terjadinya berbagai penyakit pada jemaah haji, Kemenkes membentuk Tim Promotif Preventif (TPP). TPP disiagakan di Arab Saudi.
”Artinya jemaah haji begitu di asrama haji sudah diinformasikan tentang bagaimana mencegah serangan penyakit, di Saudi juga diinformasikan seperti itu,” kata dr. Eka.
Menurut dr. Eka, jemaah haji Indonesia masih perlu penguatan pengetahuan tentang ilmu kesehatan, bagaimana kesehatan mempengaruhi ibadah, begitupun sebaliknya, ibadah mempengaruhi kesehatan. “Selain itu, penguatan SDM kesehatan pun perlu dilakukan agar menjadi SDM yang berkualitas,” pungkasnya.