Home Sumsel Tolak Pemahaman Radikal dengan Lomba Video Pendek dan Diskusi Film

Tolak Pemahaman Radikal dengan Lomba Video Pendek dan Diskusi Film

REHAT – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta peran pemuda melalui pendidikan dari SD, SMP, SMA, serta Perguruan Tinggi untuk melek dalam menelan informasi teknologi yang saat ini banyak menyesatkan tentang pemahaman radikalisme dan terorisme.

Hal ini diungkapkan Inspektur BNPT, Dr. Amrizal saat acara Satu Indonesia, “Lomba Video Pendek dan Diskusi Film” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7).

Amrizal mengatakan masyarakat harus diberikan pemahaman khususnya para pemuda agar paham menggunakan informasi teknologi itu sehingga informasi yang diterima jangan langsung diterima mentah-mentah.

“Tahun 2014 itu ada anak yang SD dia bisa bikin bom dari Media sosial, belakar dari situ, ini bahanyanya sekarang dari internet mudah sekali mereka dapat berita dan informas yang kita simak dengan baik informasi sangat menyesatkan. Upaya kita, melakukan penndekatan seperti hari ini lomba video pendek kita berikan bagaimana pemuda kota membuat karya seni berupa film yang menggambarkan  mereka bersatu walaupun beda budaya, agama, bahasa dan adat istiadat,” katanya.

Sementara itu, Ketua FKPT Sumsel, Periansyah mengatakan, radikalisme, terorisme itu adalah paham global yang jauh dari kearipan lokal.

“Di Sumsel ini sebenarnya enggak ada tetapi dunia yang sudah mengglobal ini orang bisa tahu dengan menggunakan gadget dan peran guru dan tua penting dalam menangkap pemahaman-pemahaman radikan tersebut, kalau tidak ya kita semua akan kebobolan,” katanya.

Maka dari itu, pihaknya menggelar diskusi film tentang Cinta Indonesia dengan makna Bhineka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda tapi tetap satu. “Ada pemahaman hari ini kalau perbedaan itu adalah sesuatu hal yang aneh, padahal berbeda itu bukan hal yang aneh, sama seperti berpikir beda tidak aneh karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda tapi bahwa kita harus menyakini Indonesia harus kita rawat, di Sumsel suku banyak, bahasa banyak dan itu kekayaan kita,” pungkasnya.